Something Shocking Was Fallen From the Sky

Payah! Gerutu Seth yang terlihat muram dan belepotan noda merah dari  minuman di sana-sini, meninggalkan auditorium sekolah. Ia meninggalkan pesta dansa lebih awal, daripada siswa yang lain.  Pesta dansa malam ini merupakan mimpi buruk baginya. Seth, menjadi bahan lelucon teman-teman sekolahnya malam itu.
Dari awal Seth sudah mengetahuinya, bahwa ia hanya akan di permalukan pada saat pesta dansa. Namun, ibunya memaksanya untuk datang ke pesta dansa. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya, dan terpaksa datang ke pesta dansa malam itu.
Rowenna, pasangan dansanya mencampakan Seth begitu saja. Padahal, Rowenna memohon-mohon pada Seth untuk pergi bersamanya ke pesta dansa sebelumnya. Kini, Rowenna malah bermesraan bersama pria lain dan tidak menghiraukan Seth.
Mark musuh bebuyutannya dan juga kawan-kawannya, dengan sengaja menjebak Seth dan berpura-pura menyuruh Seth membawakan beberapa minuman. Tanpa sepengetahuan Seth lantai di dekat Mark telah di buat licin. Sehingga, ketika Seth hendak memberikan minuman tersebut kepada Mark, ia jatuh tergelincir. Minuman yang berwarna merah tersebut, tumpah mengguyur Seth. Seketika, Seth menjadi pusat perhatian. Yang lebih parah, ketika ia mencoba untuk bangun ia tergelincir lagi dan lagi.
Tidak ada seorang pun yang membantunya. Kerumunan siswa lainnya hanya mentertawakan Seth, yang bersusah payah untuk berdiri. Berulang kali Seth mencoba untuk berdiri, namun goyah hingga akhirnya tergelincir lagi. Setelah Seth dapat berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya, ia pergi meninggalkan auditorium. Seth pergi membersihkan diri.
Tuxedo milik ayahnya hampir robek di jahitan bagian samping. Dirinya benar-benar berantakan. Rambut cokelatnya, lengket gara-gara tumpahan minuman yang mengguyurnya saat ia terjatuh tadi.  Noda merah, yang berasal dari minuman ada di aman-mana. Yang ingin Seth lakukan sekarang hanyalah bertemu dan bebicara pada Hale, sahabat satun-satunya, yang selalu memberinya dukungan saat ia terpuruk seperti sekarang. Namun, Hale kini sedang mengikuti program pertukaran pelajar ke Inggris, dan tidak bisa memberi Seth semangat juga ikut merasakan pesta dansa di Westfield High.
Setelah Seth selesai membersihkan diri, ia pergi meninggalkan sekolahnya Westfield High. Baginya Westfield High hanyalah kenangan buruk masa remajanya yang akan ia lupakan kelak nanti.
Di sekolah Seth, hanyalah siswa pintar namun culun yang tidak di hargai dan juga tidak begitu pandai dalam urusan bergaul. Hale hanyalah teman satu-satunya yang ia miliki. Dia dan Hale sudah berteman semenjak mereka duduk di taman kanak-kanak. Meskipun Hale adalah siswi populer di sekolah. Hale tidak pernah sungkan berteman dengan Seth. Itulah yang Seth sukai dari Hale.
Seth sengaja pulang dengan berjalan kaki dari sekolahnya. Ia sengaja mengulur waktu, agar ibunya tidak tahu bahwa ia pulang lebih cepat. Ibunya benar-benar terobsesi dengan pesta dansa Seth. Ibunya berharap, Seth akan menikmati pesta dansanya. Tetapi yang terjadi sebenarnya, Seth sama sekali tidak menikmati pesta dansanya.
Westfield High sudah berada jauh di belakang. Seth berhenti sebentar, dan melirik jam tangannya. “Hm... masih jam 10. Masih terlalu cepat untuk pulang.”  Ia berjalan kembali. “Yang aku butuhkan sekarang hanyalah, pergi menghilang dan menjernihkan pikiranku. Itu saja. Dan masalah pun hilang. Selesai. Oh, apakah aku sudah gila! Aku berbicra sendiri!” Seth berbicara pada dirinya sendiri. “Oke, taman. Lebih baik aku pergi ke taman, menjernihkan pikiranku dan memikirkan, bagaimana semua masalah yang tidak dapat dihilangkan ini, lenyap.”
Seth memutuskan untuk pergi ke taman, menjernihkan pikirannya yang penuh masalah. Masalah besar.
Seth berbelok sebelum pulang ke rumahnya. Taman di dekat rumahnya adalah salah satu tempat favoritnya, ketika ia dihadapkan berbagai masalah. Di taman, biasanya Seth duduk di bawah pohon ek tua yang berdiri kokoh, sambil menatap langit di kejauhan.
“Sempurna. Tidak ada seorang pun. Dan sekarang akulah yang menguasai tempat ini.” Seth berjalan menuju pohon ek, yang letaknya agak menjorok ke dalam taman. Ia duduk menyandarkan tubuhnya di batang raksasa pohon ek tersebut.
“Ahh... sekejap menikmati ketenangan.” Seth bersantai sejenak. Ia menatap langit malam itu yang penuh dengan bintang. “Andai saja, aku ini adalah bintang. Yang tak perlu datang ke pesta dansa, tak akan di campakan dan di kerjai teman-teman, dan tak perlu memikirkan semua masalah ini. Dasar kau payah Seth.” Ia menyalahkan dirinya senidiri.
Satu jam penuh Seth hanya memandangi langit sambil bergumam tak jelas pada dirinya sendiri. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada langit yang sedang ia pandangi.
“Hey, sepertinya aku baru pertama kali melihat bintang itu. Aku yakin. Apakah itu venus?” Perhatian Seth tertuju pada salah satu bintang. Cahaya bintang tersebut berpendar biru lebih terang dari bintang lainnya. Ukurannya pun lebih besar. “Indah sekali.” Seth terkagum-kagum.
Makin lama ia perhatikan ukuran benda yang seperti bintang tersebut semakin membesar. Dan juga bergerak.
“Oh, Meteor jatuh sepertinya.” Seth semakin kagum. Namun sepertinya, bintang tersebut terlihat bergerak mengarah ke bumi. Pandangan Seth terus tertuju pada benda di langit itu. “Meteor Jatuh! Pemandangan langka...”
Benda tersebut terlihat sudah memasuki atmosfir bumi. “...di daerah mana ya meteor tersebut jatuh kira-kira.” Seth menebak-nebak.
Tiba-tiba benda yang ada di langit itu terlihat mengarah jatuh di tempat yang tidak jauh dari taman. Terdengar ledakan yang cukup keras disertai kilatan cahaya terang. Tanah pun berguncang. Seth terkejut akan ledakan tersebut.
“Hah! Jatuh sedekat itu!” Seth bangkit dan berlari ke arah jatuhnya benda langit itu. Ia lari menerobos hutan di belakang taman. Jalanan yang ia lewati penuh dengan semak-semak.  Ia penasaran akan benda tersebut, walaupun tahu bahwa ini sedikit beresiko.
Tak lama kemudian, Seth tiba di tempat kejadian. Asap mengepul mengahalngi pemandangan, jarak pandang pun terbatas. Ia harus berhati-hati. Terdapat kobaran api kecil di semak-semak yang ada di sekitar.
Seth semakin mendekat. Ia mendekati tempat jatuhnya benda langit. Hingga akhirnya ia benar-benar terkejut melihat benda yang jatuh tersebut. Itu bukan benda langit. Itu bukan benda, itu seorang manusia. Ia yakin. Itu seorang manusia. [...]

                                                                             to be continued...




0 komentar:

Posting Komentar

Loneliness

Loneliness
The end comes when we no longer talk with ourselves. It is the end of genuine thinking and the beginning of the final loneliness.

Blog